Tak terasa sebentar lagi bulan november, bulan dimana musim hujan segera tiba, bulan yang terkenal karena menjadi salah satu judul lagu “November Rain”, masih ingat kan penyanyinya .. eits
Tapi tidak hanya musim hujan, musim mangga juga dikotaku , juga musim banjir dan musim demo juga ditelevisi.

Yup benar demo seakan menjadi fenomana tahunan disamping mudik lebaran, dimana massa berkumpul dalam jumlah sangat banyak memaksa untuk menuntut hak-hak mereka.
Tergelitik untuk mencermati hal ini ..
“ Mengapa hal ini terjadi ?? mengapa kenaikan upah seakan tidak pernah cukup, Bagaimana menyiasatinya “
Menilik kebelakang …
Tahun 2004 saya bekerja di sebuah perusahaan industri pengolahan makanan, dengan gaji awal yang saya terima saat itu sekitar 750 ribuan, (itupun sudah termasuk lembur wajib 2 jam), jika hari minggu saya ambil lembur maka total pendapatan yang saya terima kurang lebih sebesar 900 ribu
Untuk pengeluaran perbulan adalah sebagai berikut
- Uang kost Rp.40.000
- Makan (3x 5000x 30 hari) = Rp.450.000
- Bensin 1 bulan saat itu = Rp.20.000
- Pulsa 1 bulan saat itu = Rp. 20.000
- Kebutuhan Lain anggap saja Rp. 100.000
Dari perhitungan kasar, total dalam 1 bulan saya menghabiskan uang senilai Rp. 630.000.
750.000–630.00 = 120.000
Cuma mampu save money sebesar 120 ribu, kalo lagi pingin-pingin yang lain ya terpaksa ambil lembur mentok, kalo tidak ya terpaksa saya mensiasatinya, misalnya dari pola makannya, entah diturunkan kuantitasnya atau malah turun kualitasnya (asal kenyang)
Berdasarkan informasi dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) mengenai perkembangan upah dari tahun ke tahun, bahwa rata-rata kenaikan upah buruh berkisar antara 7–15% per tahun.
Dibandingkan dengan rata-rata rill inflasi Indonesia yang 10–20%, sungguh mengerikan
cepat atau lambat, pasti nilai gaji kenaikan karyawan akan tergerus Nilai Inflasi
Bagaimana cara menyiasatinya agar dapat meningkatkan pendapatan??
#Lembur ??
Lembur banyak dipilih oleh sebagian karyawan, sebagai cara tercepat untuk meningkatkan pendapatan mereka, lembur memang bisa menjadi pilihan, Tetapi Saya Tidak Menjadikannya pilihan, mengapa?
- Karena saya berpendapat bahwa, Dengan gaji yang saya terima, seharusnya sudah cukup untuk mencover kebutuhan hidup minimal selama satu bulan, sesuai standard KHL (Kebutuhan Hidup Layak) Indonesia, jika tidak ?? #seharusnya perlu dikoreksi pendapatannya…
- Karyawan bekerja lebih dari 7 jam sudah cukup capek, jika dipaksakan berkerja lebih keras lagi hasilnya tentu tidak akan maximal, karena tubuh dan pikiran yang lelah tidak akan menghasilkan output yang baik
- Perusahaan ini menerapkan 7 hari kerja, waktu lembur hanya diberikan pada hari minggu, nah kalo hari minggu masih juga saya mengambil lembur maka saya akan mengorbankan waktu istirahat saya.
#Lantas apa langkah yang saya ambil?
Bekerja Teknisi IT di perusahaan , saya memiliki keahlian dibidang komputer, terutama trouble shooting, hal ini bisa menjadi modal untuk meningkatkan pendapatan dengan menjadi Teknisi Freelance.
Opsi ini saya ambil karena
- Minim Modal, modal utama hanya promosi dari mulut ke mulut
- Menguasai bidangnya, hampir semua permasalahan yang timbul adalah problem yang setiap hari saya hadapi didunia kerja
- Pengembangan Usaha, disamping menjual jasa perbaikan kadang-kadang juga menerima jasa perakitan dan pengadaan komputer baru
Dikarenakan ini merupakan bidang jasa, maka besar kecilnya pendapatan tergantung atas kepuasan pelanggan atas jasa yang saya berikan
Pilihan ini terbukti menjadi pilihan terbaik buat saya, karena disamping mendapatkan penghasilan tambahan, saya juga mempunyai waktu yang lebih flexibel serta semakin memperkuat kemampuan saya dibidang IT.
Pesan moral yang saya dapat adalah
"Dalam keadaan kepepet jika kita paksakan otak kita untuk bekerja lebih keras, dan berani mengambil resiko, maka kita akan mendapatkan celah lebih baik"
Lembur tidak selalu menjadi pilihan
Bagaimana dengan Anda?